Kamis, 25 Februari 2010

INTERAKSI ANTARA TRADISI LOKAL, HINDU-BUDDHA, & ISLAM DI INDONESIA

Perpaduan Tradisi Lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Masyarakat

Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan islam membawa banyak perubahan terhadap corak kehidupan dan kebudayaan bangsa Indonesia. Masuknya budaya islam tidak menyebabkan hilangnya kebudayaan Indonesia pra-islam (prasejarah dan hindu-buddha), tetapi justru memperkaya keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Kebudayaan pra-islam yang baik terus di pertahankan dan di kembangkan sesuai dengan pola budaya islam dalam wujud akulturasi kebudayaan. Perwujudan akulturasi kebudayaan itu terlihat dari berbagai aspek kehidupan, misalnya seni bangun, seni rupa, seni tari, aksara, seni sastra, sistem pemerintahan, kalender, dan tasawuf.

1. Seni Bangun

Seni bangun islam yang menunjukkan akulturasi dengan budaya pra-islam yang menonjol adalah makam dan masjid.

a. Makam

Makam sebagai hasil kebudayaan zaman islam mempunyai cirri-ciri perpaduan antara unsur budaya islam dan unsur budaya sebelumnya. Misalnya dilihat dari segi fisik, tata upacara pemakaman, dan letak makam.

b. Masjid

Dalam sejarah islam, masjid memiliki perkembangan yang beragam sesuai dengan daerah tempat berkembangnya. Di Indonesia, masjid mempunyai bentuk khusus yang merupakan perpaduan agama islam dengan budaya seteempat. Misalnya, dari bentuk bangunan, menara, dan letaknya.

2. Seni Rupa

Cabang seni rupa yang berkembang adalah seni ukir dan seni lukis. Pola-pola hiasannya meniru zaman pra-islam, seperti daun-daunan, bunga-bungaan, bukit-bukit karang, pemandangan, garis-garis geometri, kepala kijang, dan ular naga. Contoh, masjid yang di hias dengan ukiran adalah masjid Mantingan, dekat jepara yang terdapat lukisan kera, ukiran gapura di candi Bentar di Tembayat, Klaten, yang dibuat pada masa Sultan Agung pada tahun 1633, dan gapura Sendang Duwur di Tuban.

Pada zaman islam juga berkembang seni rupa yang disebut kaligrafi, yaitu seni menulis indah .

3. Seni Tari.

Di beberapa daerah di Indonesia terdapat bentuk-bentuk tarian yang berkaitan dengan bacaan selawat dan dalam tarian itu sangat di pengaruhi oleh paham sufi(tasawuf). Misalnya, pada permainan debusyang di awali dengan bacaan ayat-ayat tertentu dari Alquran atau selawat dengan menggunakan lagu-lagu tertentu.

4. Aksara

Sering dengan kedatangan islam ke Indonesia, masuk pula unsur budaya berupa huruf (aksara) arab. Aksara arab yang di gunakan dalam kitab suci agama islam (Alquran).

5. Seni Sastra

Kesusastraan pada zaman islam banyak berkembang di daerah sekitar selat malaka (daerah melayu) dan jawa. Kebanyakan karya sastra pada zaman islam yang sampai pada kita sekarang ini telah berubah dalam bentuknya yang baru, baik bahasa maupun susunannya. Pengaruh yang kuat dalam karya sastra pada zaman itu berasal dari Persia. Misalnya, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, dan Hikayat 1001 malam (alif laila wa laila).

6. SIstem Pemerintahan

Pengaruh agama islam di Indonesia juga meluas di bidang pemerintahan sehingga terjadi pula prroses akulturasi antara kebudayaan islam dan kebudayaan pra-islam. Bentuk-bentuk akulturasi dalam bidang pemerintahan itu adalah sebagai berikut:

· Penyebutan nama raja

· Sistem pengangkatan raja

7. Sistem Kalender

Ketika islam masuk ke nusantara, peninggalan islam berupa kalender Hijriyah pun ikut masuk. Kalender Hijriyah menggunakan perhitungan peredaran bulan(lunar system atau sistem komariah). Semakin banyaknya penganut islam di nusntara, makin banyak pula diantara mereka yang menggunakan kalender Hijriyah sehingga menimbulkan masalah. Hal itu karena pemakaian kalender Hijriyah tidak sama dengan kalender yang selama ini di pergunakan, yaitu kalender saka yang menggunakan perhitunganperedaran matahari (solar system). Akibatnya, muncul usaha untuk memperbaharui kalender dengan cara menggabungkan kedua sistem kalender tesebut.

8. Filsafat (Tasawuf)

Berfilsafat adalah berpikir untuk mencari kebenaran yang hakiki. Orang islam kemudian merumuskan kebenaran melalui pendekatan tasawuf.

Bentuk-bentuk akulturasi ilmu tasawuf dengan budaya pra-islam tampak dalam hal-hal berikut:

* Aliran Kebatinan

* Karisma Wali

* Filsafat Dalam Seni Budaya


Percampuran Kepercayaan Lokal, Hindu-Buddha, dan Islam Dalam Kehidupan Keagamaan di Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam

Di daerah-daerah yang belum terpengaruh oleh kebudayaan Hindu, agama islam mempunyai pengaruh yang mendalam. Misalnya di aceh, banten, Kalimantan selatan, Kalimantan barat. Di daerah-daerah yang pengaruh kebudayaan pra-islam telah kuat seperti di jawa teengah dan jawa timu, agama islam bersentuhan dengan unsur-unsur budaya pra-islam, sekaligus menciptakan tatanan kehidupan sosial budaya yang penuh toleransi.

Proses akulturasi antara agama dan budaya pra-islam dan islam mengembangkan corak kehidupan keagamaan yang khas. Misalnya, tradisi pemakaman dengan segala atributnya yang seerba menonjol sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran islam. Islam juga tidak mengenal kegiatan perkabungan dalam bentuk persedekahan. Di luar kewajiban untuk memperlakukan jenazah, mulai dari memandikan sampai dengan upacara pemakaman, juga tidak di kenal peringatan kematian seperti hari ke-1,2,3,7,40,100, atau ke-1000.


Perbandingan Konsep Kekuasaan di Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha dengan Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam


Menurut pandangan rakyat pada zaman Hindu-Buddha, raja dianggap sebagai seorang tokoh yang diidentikkan dengan dewa (kultus dewa-raja). Kekuasaan raja dianggap tidak terbatas. Ia tidak dapat di atur dengan cara-cara duniawi, tetapi dalam dirinya terdapat kekuatan yang mencerminkan roh dewa atau jiwa illahi yang mengendalikan kehendak pribadinya. Negara dianggap sebagai citra kerajaan para dewa, baik dalam aspek materialnya maupun aspek spiritualnya. Raja dan para pegawainya harus memiliki kekuasaan dan kekuatan yang sepadan dengan yang dimiliki oleh para dewa.

Jadi, dalam kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha maupun islam yang keramat sifatnya, konsep magis religius memainkan peranan yang menentukan. Konsep magis religius ini tidak hanya dalam membenarkan dan memperkokoh kekuasaan raja, tetapi juga dalam menjelaskan peranan orang yang memerintah dan yang diperintah serta hubungan antara raja dan rakyatnya.

0 komentar:

Poskan Komentar